Friday, March 22, 2013

15 Maret 2013

Aku menulis tulisan ini di kantin kampusku.
Kantin yang sesungguhnya ramai.
Terlampau ramai malah.
Tapi aku sendiri.
Mungkin hujan mengerti akan kesepianku.

Ya. Aku menulis tulisan ini tepat ketika hujan turun.
Aku dapat mencium wanginya.
Wangi tanah yang basah karena percikan air hujan.

Ada satu saat di mana aku duduk terdiam.
Bengong.
Lalu ku tarik nafas dalam-dalam.
Aku dapat merasakan kedamaian dalam wangi tanah yang basah.
Ternyata, sendiri dan sepi itu tidak selalu buruk.

Mungkin aku bisa sedikit demi sedikit menyukai hujan.

Sunday, March 10, 2013

Teruntuk Kamu.

Terima kasih atas waktu yang telah kamu berikan. Sekitar dua minggu yang menurutku, tidak bisa dijelaskan oleh jemariku yang kini menari-nari di atas keyboard. 

Terima kasih atas semangat yang telah kamu berikan, untuk aku bisa menjalani pagi, siang, dan malamku dengan ceria.

Terima kasih atas kepercayaanmu menceritakan sebersit kisah hidupmu, keluargamu, hobimu, dan sedikit kehidupanmu.

Terima kasih atas kesabaranmu, mendengarkan cerita dan celotehanku. Yang mungkin sebagian besar tidak penting untuk didengar.

Terima kasih atas kepedulianmu. Meminjamkan jaketmu dan meletakannya di kepalaku agar aku tidak terkena hujan.

Waktu, semangat, kepercayaan, kesabaran, dan kepedulian yang kamu bagi kepadaku dalam beberapa hari itu, mungkin sudah terlupakan olehmu. Tapi aku tetap berterima kasih.

Ternyata memang tidak semua kupu-kupu yang ada di perutku ini indah.

Terima kasih, teruntuk kamu, temanku.

Gunung, Bintang.

Sepertinya, selain pantai, aku menemukan tempat favoritku lagi. Gunung. Ya, tempat itu sangat berlawanan 180 derajat dengan pantai. Ada alasan mengapa aku menjadi suka gunung. Kamu mau tau?

Aku sangat suka memandangi bintang. Di kala sekitarnya gelap, bintang tetap memiliki cahayanya sendiri. Tapi menurutku, bintang itu pemalu. Ketika sekitarnya lebih terang dari dirinya, ia merasa kalah dan akhirnya tidak menampakan diri.

Aku sangat suka memandangi bintang. Waktu itu, aku berkesempatan untuk rebahan di landasan udara pada malam hari. Untungnya langit sedang cerah, jadi banyak sekali bintang yang bisa kulihat dengan mata telanjang. Mereka begitu indah. Aku merasa nyaman sekali, meskipun hanya untuk beberapa menit.

Aku sangat suka memandangi bintang. Ketika aku bisa memandang langit, mengagumi bintang-bintang di sana, aku yakin bahwa kamu juga. Mungkin yang kita pandangi bukanlah bintang yang sama, tapi paling tidak kita sama-sama memandang ke arah langit yang sama.

Lalu apa hubungannya dengan gunung? Ketika itu, aku berada di puncak gunung, dini hari. Dari sana, aku bisa melihat bintang-bintang dengan lebih jelas. Lebih dekat. Aku merasa aku bisa menggapai bintang-bintang itu. Dengan begitu, aku merasa lebih dekat dengan kamu.

Saturday, March 9, 2013

Nyaman

Seperti kata seorang teman yang pernah memberitahuku, nyaman itu tidak bisa dicari. Begitu dapet yang nyaman, dialah orangnya.

Aku setuju dengannya. Nyaman tidak bisa dicari. Kamu bisa saja mengobrol dengan seseorang. Tapi ada kalanya obrolan itu sirna, menjadi hening yang panjang. Di sana aku tahu, aku tidak (atau belum) nyaman dengannya.

Mungkin yang namanya nyaman adalah aku bisa menjadi diriku seutuhnya di depannya. Aku bisa menunjukan sisi anehku di depan matanya. Aku bisa mengajaknya menggila bersamaku. Aku bisa memperlihatkan muka tidurku yang nggak banget. Dan aku bisa dengan leluasa buang angin ketika bersamanya, membiarkannya mencium aroma tidak sedap itu.

Aku pernah merasakan kenyamanan itu. Nyaman bersama satu orang yang sampai saat ini, ketika aku menuliskan ini, bayangan wajahnya masih ada di dalam kepalaku. Tapi, mungkin sekarang dia sudah menemukan kenyamanannya sendiri.

Ada kalanya, kita harus keluar dari comfort zone, bukan?
Sesuatu yang mudah ditebak, awalnya pasti menyenangkan. Akan tetapi, kita akan cepat bosan.
Sesuatu yang sulit untuk ditebak, awalnya juga menyenangkan. Dan akan menjadi terus menyenangkan. Tidak pernah bosan.

Hal itu juga berlaku untuk manusia. Seseorang yang sulit ditebak, menjadi sulit untuk digapai. Tentunya bikin orang penasaran. Dan manusia suka kejutan.