Friday, January 4, 2013

Mimpi

Yes, ilusión. Why? Ilusión yang gue maksud di sini tentunya bukan ilusi, melainkan mimpi. Siapa manusia di dunia ini yang bisa hidup tanpa mimpi? Gue rasa, tanpa mimpi, manusia tidaklah hidup. Karena dengan mimpi, manusia tau apa tujuan mereka hidup di dunia ini.

Bisa dibilang, mimpi itu harapan. Ya, kita berharap (gue khususnya) bahwa harapan-harapan yang gue taro melalui mimpi itu bisa menjadi kenyataan. Kalo mau dijabarin, mimpi gue banyak banget. Dari yang muluk, sampe yang masih mungkin untuk dicapai dan direalisasikan. Tentunya untuk mencapai mimpi-mimpi tersebut, kita harus berusaha keras. Ya iyalah, nenek-nenek juga tau.

Salah satu mimpi gue adalah menjadi psikolog pernikahan. Sekarang gue lagi di jalan menuju mimpi gue itu. Gue kuliah di fakultas psikologi. Dan gue juga ngambil peminatan klinis yang berkaitan dengan orang dewasa. Kenapa gue ngga mau jadi psikolog anak? Sebetulnya gue suka sama anak-anak. Suka banget malah. Menurut gue, tingkah mereka tuh lucu banget. Tapi gue ngga kebayang kalo misalnya jadi psikolog anak. Karena anak-anak ngga bisa mengutarakan apa yang mereka rasakan kan? Beda sama orang dewasa.  Terus kenapa psikolog pernikahan? Hm...gue juga belum tau alasannya kenapa. Yang gue lihat di film-film sih keliatannya seru jadi psikolog pernikahan. Kayak lo bisa merencanakan sesuatu agar pernikahan sepasang suami-istri bisa bahagia. Lo juga bisa membantu memberi solusi kalau ada pasangan yang sedang punya masalah. Gue tau, pasti ngga semudah itu. Makanya gue butuh kerja keras dari sekarang kan? Hehe.

Selain itu, gue juga punya mimpi, kalo nanti gue punya anak, gue bisa membesarkan anak-anak gue dengan sangat baik. Kenapa gitu? Karena di perkuliahan gue saat ini, peminatan yang gue ambil selain klinis adalah perkembangan, yaitu tumbuh kembang manusia, dari lahir sampe meninggal, tapi difokuskan di anak-anak. Jadi gue diajarkan bagaimana mendidik anak yang baik, supaya bisa tumbuh dan berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Nah, kalau gue ngga bisa mendidik dan mengembangkan anak gue sendiri, malu kan? Orang udah tau cara-caranya pas di kuliah ini, hehe. Bahkan ada satu mata kuliah gue, yang dosennya kalo ngajar udah kayak seminar parental guiding. Abis dari kelas dia, pasti pada galau pengen nikah dan punya anak semuanya hahaha.

Soal gue kepengen jadi psikolog pernikahan, itu berarti gue akan buka praktik psikolog sendiri. Hm...kalau boleh bermimpi sih, gue pengennya hidup di luar negeri, buka praktik psikolog pernikahan di luar negeri. Di Amerika, misalnya, di Los Angeles atau New York. Yaa namanya juga mimpi kan? Hehe. Bukannya ngga cinta sama negara sendiri sih. Di Indonesia itu, masih sedikit orang-orang yang sadar bahwa dirinya butuh pertolongan psikolog. Di sini, kebanyakan orang awam taunya kalo lo ke psikolog, berarti lo gila. Beda sama di luar negeri, yang pergi ke psikolog itu udah cenderung di nilai biasa aja. Tapi yaaa namanya juga mimpi. Kalau pun rezekinya tetep di Indonesia, di Jakarta, disyukuri aja, ya kan?

Itulah salah satu mimpi gue, yang menurut gue masih bisa dicapai dan diusahakan, apalagi kalua gue udah kerja keras dari sekarang. Apapun mimpi kamu, percaya aja kalau kamu bisa mencapai mimpi tersebut. Jangan lupa terus berusaha dan berdoa.

Love, M.

No comments:

Post a Comment